Bedah mayat (autopsi) ditinjau dari perspekif hukum positif Indonesia dan hukum Islam

muhammad hatta, Zulfan Zulfan, Srimulyani Srimulyani

Abstract


Dalam hukum positif Indonesia, autopsi forensik diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana dan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Ketiga undang-undang tersebut membenarkan melakukan tindakan autopsi dengan tujuan untuk menegakkan keamanan, dan keadilan bagi masyarakat. Hasil pemeriksaan autopsi forensik akan tertuang dalam sebuah laporan tertulis dalam bentuk visum e repertum dapat digunkan sebaga alat bukti di pengadilan. Dalam hukum islam, autopsi forensik dilarang karena dapat merusak mayat dan melanggar kehormatan mayat. Namun, ada beberapa ulama membenarkan autopsi forensik dengan alasan untuk mewujudkan kemaslahatan ummat (mashalih mursalah) baik di bidang keamanan, keadilan, dan kesehatan. Berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 6 Tahun 2009 tentang Autopsi Jenazah menyebutkan bahwa pada dasarnya autopsi dilarang atau haram, namun dalam keadaan Darurat atau mendesak maka diperbolehkan. In Indonesia positive law, a autopsy is regulated in the Criminal Code, Law No. 8 of 1981 concerning the Criminal Procedure Code and Law Number 36 of 2009 concerning Health. The three laws justify carrying out autopsy actions with the aim of enforcing security, and justice for the community. The results of a forensic autopsy examination will be contained in a written report in the form of a post mortem report that can be used as evidence in court. In Islamic law, forensic autopsies are prohibited because they could damage a corpse and violate the honor of a corpse. However, there are some scholars who justify the forensic autopsy on the grounds of realizing the benefit of the ummah (mashalih mursalah) in the fields of security, justice and health. Based on the Fatwa of the Indonesian Ulema Council Number 6 of 2009 concerning the Body Autopsy states that basically autopsies are prohibited or haram, but in an emergency or urgent condition it is permissible.

Keywords


autopsy, Indonesia positive law, Islamic law

Full Text:

PDF

References


Afandi, D. "Otopsi Virtual" dalam Maj. Kedokteran Indonesia, Vol. 59. No. 7. 2009.

Agus, M., & Wirasuta, G. "Analisis Toksikologi Forensik dan Interpretasi Temuan Analisis" dalam Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences. Vol. 1. No. 4. 2008.

Al-Hazmi. Taqrib Fiqh Al-Thabib. Riyadh: Mansyurat al-Ashr. 1978.

Al-Syinqithi. Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah. Beirut: `Alam al-Kutub. t.t.

Amir, A. Autopsi Medikolegal. Medan: Percetakan Ramadhan. 2004.

Awolabi, A. "Anatomy : A Chronological Review of the Evolution of Context and Content Anatomy : A Chronological Review of the Evolution of Context and Content" dalam Asian Journal of Medicine and Health. Vol. 4. No. 4. 2017.

Bakry, H. N. Fiqh & Ushul Fiqh. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2003.

Barama, M. Kedudukan Visum Et Repertum Dalam Hukum Pembuktian. Manado: Universitas Sam Ratulangi Press. 2011.

Chavoushi, S. H. "Surgery for Gynecomastia in the Islamic Golden Age Al-Tasrif of Al-Zahrawi (936-1013 AD)" dalam ISRN Surgery. Vol. 69. No. 7. 2012.

Cosans, C. E. "History of Classical Anatomy" dalam Science & Society. Vol. 4. April 2001.

Dahlan, A. A. Ensiklopedi Hukum Islam (1st ed.). Jakarta: Ichtiar Baru Van Hooeve. 1996.

Diantha, I. M. P. Metodologi Penelitian Hukum Normatif dalam Justifikasi Teori Hukum. Jakarta: Prenanda Media Group. 2017.

Dumais, J. "Kewajiban Polisi (Penyidik) Untuk Meminta Otopsi (Visum Et Repertum) Terhadap Korban Kejahatan (Kajian Pasal 133 KUHAP)" dalam Lex Crimen. Vol. 4. No. 5. 2015.

Hasan, M. A. Masail Fiqhiyah Al-Haditsah Pada Masalah-masalah Kontemporer Hukum Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2000.

Hastuti, D. Perspektif Hukum Islam Terhadap Otopsi (Studi Kasus Di RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta). Yogyakarta: Fakultas Syari’ah, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. 2009.

Hatta, M. "Perdebatan Hukuman Mati di Indonesia: Suatu Kajian Perbandingan Hukum Islam dengan Hukum Pidana Indonesia" dalam Jurnal Miqot. Vol. XXXVI. No. 2. 2012.

Hatta, M. "The Position of Expert Witnesses in Medical Malpractice Cases in Indonesia" dalam Al-Ahkam: Jurnal Pemikiran Hukum Islam. Vol 29. No. 1. 2018.

Kao, N. L. "The Benefits of Performing Autopsies" dalam Arch Intern Med. Vol. 158. 1998.

Kayes, F. "Postmortem Pathology. A Manual of Postmortem Examinations and the Interpretations to Be Drawn Therefrom. A Practical Treatise for Students and Practitioners" dalam JAMA. Vol. XLII. No. 2. 1904.

Khalisin, A. Euthanasia Dalam Perpektif Hukum Pidana Islam. Makasar: Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin. 2016.

Kusuma, M. S. E. Ilmu kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Universitas Airlangga Press. 2012.

Law, M., Stromberg, P., Meuten, D., & Cullen, J. "Necropsy or Autopsy ? It ’ s All About Communication" dalam! Veterinary Pathology. Vol. 49. No. 2. 2012.

Makie, I. "Fungsi Otopsi Forensik dan Kewenangan Kepolisian Republik Indonesia Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP)" dalam Lex Privatum. Vol. 4, No. 5. 2016.

Maramis, M. "Tinjauan Yuridis Terhadap Otopsi Medikolegal Dalam Pemeriksaan Mengenai Sebab-Sebab Kematian" dalam Jurnal Hukum Unsrat. Vol. 21. No. 5. 2018.

Maryam, H. J. "Perkembangan Kedokteran Dalam Islam" dalam Sulesana. Vol. 6. No. 2. 2011.

McCall, J. K. M. and Smith, McCall. Forensic Medicine for Lawyers. London: Butterworths. 1986.

Mont, J. Du, & White, D. The uses and impacts of medicolegal evidence in sexual assault cases: A global review. Geneva: WHO publications. 2007.

Moosavi, J. "The Place of Avicenna in the History of Medicine" dalam Avicenna Jounal of Medical Biotechnology. Vol. 1. No. 1. 2009.

Nurhayati. "Kesehatan dan Pengobatan Dalam Tradisi Islam: Kajian Kitab Shahih Al-Bukhari" dalam Ahkam. Vo. 2. No. XVI. 1990.

Pinontoan, Y. A. "Visum Et Repertum Sebagai Barang Bukti Pengganti Mayat" dalam Lex Privatum. Vol. 4. No. 4. 2016.

Qudamah, I. Minhajul Qashidin (Jalan Orang-orang Yang Mendapat Petunjuk). Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2007.

Rahayu, E. Kamus Kesehatan. Jakarta: Team Penerbit. 2014.

Rahman, A. A. Asjmuni A. Rahman , Qaidah-qaidah Fiqih (Qawa`idul Fiqiyah). Jakarta: Bulan Bintang. 1976.

Rahman, F. Health and Medicine in the Islamic Tradition. New York: Rossroad Publishing Company. 1999.

Rasjid, S. Fiqh Islam (3rd ed.). Bandung: Sinar Baru Algesindo. 2005.

Sagai, B. Y. D. "Aspek Hukum Terhadap Autopsi Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Menggunakan Racun" dalam Lex Crimen. Vol. VI. No. 8. 2017.

Sarwat, A. Seri Fiqih Kehidupan: Kedokteran. Jakarta: DU Publishing. 2011.

Shidiq, S. Fikih Kontemporer. Jakarta: Prenadamedia Group. 2016.

Sigit, M. 2016. Muhammad Tambrin: Ini Pandangan Islam Seputar Otopsi Jenazah! Retrieved April 30, 2019, from https://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/muhammad-tambrin-ini-pandangan-islam-seputar-otopsi-jenazah

Sugono, D. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas Pusat Bahasa. 2008.

Sya’rawi, M. A. Anda Bertanya Islam Menjawab (1st ed.). Jakarta: Gema Insani Press. 1992.

Turmudi. "Ijtihad Pada Masa Kotemporer (Konteks Pemikiran Islam dalam Fiqh Dan Ushul Fiqh)" dalam IAIN Tribakti Kediri. Vol. 25. No. 1. 2014.

Waluyadi. Ilmu Kedokteran Kehakiman Dalam Perspektif Peradilan dan Aspek Hukum Praktik Kedokteran. Jakarta: Penerbit Djambatan. 2007.

Wibawati, M. A. Bedah Mayat Perspektif Hukum Positif dan Hukum Islam (Studi Kasus di RS Bhayangkara Kediri). Tulungagung: Institut Agama Islam Negeri Press. 2008.

Yaqin, A. "Legal Research and Writting Malaysia" dalam Malayan Law Journal SDN BHD. Vol. 1. 2007.

Yasid, A. Fiqh Realitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.




DOI: https://doi.org/10.18326/ijtihad.v19i1.27-52

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License

Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan by http://ijtihad.iainsalatiga.ac.id/ is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

*All rights reserved 2016